Tuesday, April 19, 2011



SANG PIAWAI
Ini sekedar cerita  sambil lalu saja. Barangkali dari cerita sekedarnya,  numpang lewat, ada hikmah yang bisa kita petik di dalamnya. Sebut saja Pak Irfan namanya, beliau seorang yang sangat smart di bidangnya. Gelar Engineer diraihnya dari sebuah Institut yang sudah tersohor dan terkemuka di negrinya, yang telah menelorkan para experties yang canggih. Dengan usianya yang relatif masih sangat muda dan kepiawainnya, beliau mulailah perantauannya. Awalnya ke sebuah Negara di Middle East. meski tidak di Oil Company sebagaimana biasanya, tapi untuk awal karir,  sudah bisalah dibilang sukses.
Sebut saja Perusahaan X namanya. Beliau berkiprah di perusahaan itu karena ajakan salah seorang bossnya, seorang direktur, yang tengah ditunjuk bertugas di wilayah itu. Subhanallah….seiring dengan perjalanan waktu, beliau dipindah tugas ke Negara sekitar Middle East lainnya. Di sana, bertemulah beliau dengan atasan barunya, Mr Zee. Di tempat baru inilah, pak Irfan akhirnya membawa sang istri yang baru dinikahinya setahun ini. Istrinya bekerja di….ex perusahaan ternama pula di negara asalnya. Usianya masih sangat belia.
Begitu menginjakkan kaki di negara yang terasa masih sangat asing inilah, di saat tak ada seorangpun yang dikenalnya, mereka berkenalan dengan keluarga Mr ZEE yang dalam hal ini adalah atasannya. Kemana-mana , istri Mr ZEE yang tak pernah memandang orang lain sebagai atasan atau bawahan, mengantar istri pak Irfan. Keluarga Mr ZEE tak pernah merasa keberatan untuk menolong dan membantu siapapun. Moment itu pun tak terlewatkan. Hari-hari kebersamaan antara keluarga beliau dan keluarga Mr ZEE, terutama istrinya yang sudah saling dekat, bahkan sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Suatu pemandangan yang jarang terlihat sebenarnya, apalagi di kehidupan yang sudah sangat masing2. Plus, di luar negri. Tapi begitulah, indahnya persaudaraan. Yang jarang, bukan berarti tak ada.
 Sayangnya, perangai pak Irfan  yang masih sangat muda dan cerdas itu tidak seperti kelihatannya. Jika bertandang kerumah Mr ZEE, atau kadang……ketika menjemput sang istri tercinta yang tengah rebahan atau bercengkrama dengan keluarga Mrs ZEE, Mrs Zee mendapati wajah suami  Shanty, pak Irfan….kelihatan sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan. Atau mungkin…….. ini hanya perasaan wanita saja. Biasa, terkadang wanita suka melebih-lebihkan perasaannya. Entahlah, di mata Mrs Zee sepertinya beliau kikuk,  dan tak ada senyum-senyumnya. Kaku sekali dalam bersikap. Padahal Mrs. ZEE sudah berusaha  seramah mungkin bersikap sebagaimana layaknya orang tua terhadap anak, bukan atasan terhadap bawahan seperti yang selama ini biasa terjadi. Itu semua karena kesederhanaan istri  Mr ZEE.
Sampai suatu ketika terungkaplah bahwa sang cerdik cendekia pak Irfan,  ternyata ketika bekerja, beliau seringkali korupsi waktu. Artinya, ketentuan jam yang berlaku semisal dari jam 8 pagi sampai 4 sore, ternyata pada prakteknya beliau seringkali berangkat jam 10. Dan sebelum waktunya pulang beliau sudah pulang dulu.  Dengan entengnya, beliau mengatakan : “ Aku kan bekerja bukan ntuk perusahaan, bukan untuk Mr ZEE  tapi untuk sang direktur yang membawaku”. Dan beliaupun tidak merasa bersalah karenanya. Jadi, beliau merasa berhak untuk tidak mengikuti peraturan perusahaan ataupun tidak mematuhi Mr.ZEE.
Mr ZEE adalah orang yang lugu, meski sedikit emosional dan agak keras wataknya tapi beliau tidak pernah berprasangka buruk. Dan begitulah, akhirnya terbuka aib sang cerdik cendekia, fitnahnya pada Mr ZEE sudah menyebar kemana-mana. Ternyata orang yang se ‘smart’ dan semuda beliau, plus seorang laki-laki, telah menebarkan angin perseteruan dengan menjelek-jelekkan nama atasannya, Mr Zee. Naudzubillahi min dzalik. Sesuatu yang tak sepantasnya dilakukan orang yang tinggi ilmunya……..Dan makin terbukalah, ternyata tak satupun teman dari lingkungan kerjanya yang menyukainya……
Dengan sangat emosional,  Mr Zee, akhirnya me ‘resign’ pak Irfan. Sesuatu yang sebenarnya tak perlu terjadi. Tapi begitulah dunia kerja. Sulit difahami. Mengapa Mr. Zee tidak memasrahkan penilaiannya saja pada Rabb sang pencipta? Mengapa…..mengapa…..? Bukankah hal itu justru akan mengurangi dosanya? pertanyaan-pertanyan itulah yang  menggelitikku  sebagai  penonton dalam hal ini.   Aku tak ingin berkomentar.  Tak semudah itu untuk berjiwa besar……
Sang istri tidak  tahu menahu ada masalah apa kok tiba-tiba pak Irfan pulang ke negerinya? Akhirnya setelah lama berselang kejadiannya, dari mulut Mr Zee meluncurlah pengakuan. Bahwa dialah yang me ‘resign’ sang piawai itu. “kenapa harus sesaklek itu pi?” kata istrinya. “Adik tidak tahu apa yang dilakukannya, sebatas yang adik tahu. Kesalahannya sudah tidak bisa ditolelir, bukan hanya padaku tapi juga pada perusahaan ini. “ kata mr Zee pada istrinya. “ Ah, pantas saja,…” gumam sang istri.”hhh…. tak taulah aku, urusan kantor”…….

Note :
Kita bekerja untuk siapakah sebenarnya? Untuk atasan kitakah? Dengan niat itukah? Itulah yang seringkali manusia tidak sadari. Apakah kita makan dari gaji yang diberikan atasan kita setiap bulannya? Apakah kalau tidak ada atasan kita kita tak bisa makan? Naudzubillah….Atasan kita hanyalah manusia seperti halnya kita. Bahwa rizki itu datangnya dari Allah, bukan dari manusia dan bukan dari atasan kita. Tak perlu kita menghamba pada manusia, Tidak pula hidup tanpa etika, tanpa “manner” . Dan takutlah hanya kepada Allah, tidak kepada manusia.
 Niat merupakan neraca bagi suatu perbuatan. Niat adalah kehendak yang pasti, sekalipun tidak disertai dengan amal perbuatan. Maka dari itu, kadang kehendak  merupakan niat yang baik lagi terpuji dan kadang kehendak  merupakan niat yang buruk lagi tercela. Hal ini tergantung dari apa yang diniatkan, dan juga tergantung kepada pendorong serta pemicunya. Apakah untuk dunia ataukah akhirat? Apakah untuk mencari keridhoan Allah , ataukah untuk untuk mencari keridhoan manusia? Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam : “Kemudian mereka dibangkitkan menurut niat mereka…..” (HR. Ibnu Majah, no 4229 dan Ahmad, II/392)
“Sesungguhnya setiap orang memperoleh dari Allah sesuai dengan apa yang diniatkan.Jika berniat baik, maka ia akan memperoleh kebaikan. Dan jika berniat jelek, maka ia akan memperoleh balasan kejelekan pula.” (Bahjatun Nazhirin 1/31 dan syarah hadits Arba’in oleh imam Nawawi hal 17).

Monday, April 18, 2011

Aku dan Kisahku

Semoga kisah ini bisa diambil hikmahnya………

Aku adalah seorang abi dari ke 3 putri. Masa mudaku kuisi dengan dunia glamour dan kesenangan, bahkan aku tidak merasa malu untuk menenggak minuman keras, bukan karena sok gagah-gagahan, atau untuk mabuk-mabukan, tapi lingkunganku yang 95 % orang kulit putih, membuatku terbawa pada kehidupan mereka. Beer memang jadi minuman sehari-hari penghangat badan karena dinginnya cuaca alam. Apalagi ditambah hobyku sebagai pemain band, membuatku terbiasa dengan hal seperti ini.
 Suatu ketika, di tengah perjalanan hidupku, sesuatu yang tak kusangka terjadi padaku. Dan inilah yang akhirnya mengubah gaya hidupku selanjutnya. Aku mengalami kejang perut yang luar biasa. Aku kira aku sudah tidak akan melihat dunia ini lagi. Tapi Allah ternyata punya rencana lain. Subhanallah, aku yang selama ini semakin jauh dari  Rabbku, saat itu, kuasa Allah datang…..aku menyebut Asmanya berkali…….di saat itu pula kesadaran berTuhanku muncul. Di sela erangan sakitku. Aku luruh, tersungkur ke bumi, aku bersujud memohon ampun atas segala yang kujalani selama ini.
Aku sangat bersyukur, walaupun orangtuaku tidak mengerti masalah agama, mereka menyekolahkanku di sekolah Islam, sehingga, aku masih bisa mengingat dengan jelas, cara-cara aku harus mengerjakan shalat, berdoa, dsb. Apa yang selama ini benar-benar hilang untuk beberapa saat dalam kehidupanku. Sejak kejadian malam itu, aku terus menyebut Asma-Nya, aku pelajari lagi, apa-apa yang telah aku lupa selama ini. Aku mulai menata kembali hidupku. Aku baca lagi dan lagi Al-Qur’an, aku kaji isinya. Akupun semakin aktif  mengikuti kajian-kajian, dan ceramah tentang Islam.
 Di saat aku ingin kembali bangkit dan membutuhkan motivasi dari seseorang. Subhanallah, aku tak bisa lepas dari mengingat seseorang yang selama ini telah mencuri perhatianku. Dia seorang gadis yang sudah tak ber-ibu. Awalnya, aku bertemu dia di rumah temanku. Ketika akhirnya kami sama-sama jatuh hati, meski dengan kebangsaan yang berbeda.  Kelembutan dan perhatiannya membuatku  saat ini ingin segera menemuinya.
Meski harus kutempuh jarak berkilo, aku bertekad untuk menemuinya. Tapi kedatanganku kali ini tidak seperti yang lalu, kalau dulu dia mengenalku masih sebagai seorang play boy,….. kali ini, aku datang untuk sesuatu yang…entahlah….aku merasa yakin, dia tidak akan menolakku dan masih mencintaiku. Kami memang sempat menjadi kekasih, walau untuk beberapa saat. Dengan berbekal Al-Qur’an di tangan, aku nekad mendatangi rumahnya. Sungguh, diluar dugaannya, dia terkejut melihat kehadiranku, dia tidak menyangka orang se’ play boy’ diriku masih ingat dia, katanya. Dengan sedikit berbasa-basi, dan ngobrol, akhirnya aku berterus terang padanya kalau aku ingin menghadiahi dia Al-Qur’an. “Bacalah”, kataku.
Sejak aku kembali ke jalan-Nya, aku tak pernah lagi bermain-main dengan larangan agama apalagi untuk melanggarnya. Aku bermaksud serius pada Louise, nama gadis itu.Kadang, aku  berbincang lewat telpon saja, itupun pembicaraan yang umum-umum saja dan tentang islam khususnya. Louise memang dibesarkan dalam lingkungan yg tentu saja sama sekali tidak mengenal  islam, karena ayahnya berkebangsaan irlandia asli dan ibunya Amerika. Dari apa yang ku tangkap, dia mengakui bahwa kitab yang aku berikan padanya sungguh sangat bagus isinya, dia mengakui kebenaran Islam.
Itulah langkah awalku. Semoga Allah meridhoiku. Dari situ akhirnya, dia sering berdiskusi denganku tentang islam. Dan di titik penghujung,  dia pun menyatakan diri  ingin masuk Islam. Ya Rabb, inilah kebahagiaanku berikutnya. Terimakasih atas nikmat yang telah Kau beri. Akupun  akhirnya melamarnya. seperti laiknya seorang raja mempersunting permaisuri.
Sementara aku tengah asyik-asyiknya menikmati kehidupan baru, kesadaran baru  beragama,  datanglah kabar yang sama sekali tak kusangka, teman main band ku “Amri” menderita sakit cancer dan sudah stadium 4. Dengan segenap keprihatinan aku berusaha menemuinya. Astaghfirullah…..sungguh keadaannya tak lagi seperti dulu ketika kami masih sama-sama main dalam 1 group band. Padahal, belum begitu lama aku berpisah dengannya. Badannya sangat kurus dan pucat. Tak ada lagi cahaya .
 Hari-hari kuhabiskan bersama sahabatku, aku tak ingin kehidupan yang  kami lewati dulu yang serasa indah nampak dimata, dan sebenarnya hanya kepalsuan, menyeretnya pada hari-hari  terakhir dalam hidupnya. Aku berusaha menuntunnya , menemui jalan yang diridhoi-Nya. Sampai detik terakhirnya, dia berada dipangkuanku, kutuntun detik demi detik yang terlewati dengan mengucap Asma-Nya.  Airmatanya tak hentinya mengalir, sepertinya ingin menyampaikan kata-kata padaku. Semoga Engkau merahmatinya ya Rabb. Aku  terhenyak, tak kuasa menahan air mata, meski aku seorang laki-laki.
Kejadian  ini terus menggelayuti   ingatanku. Aku semakin memantabkan langkahku menuju jalan-Nya. Kuasa-Mu ya Rabb yang telah membukakan pintu hati hamba-Mu ini……

                                                 *****************

Anakku yang pertama lahir, aku memberinya nama Asyah. Aku sengaja tidak menyerahkan kepengasuhan anakku pada baby sitter. Meskipun kami sama-sama bekerja. Sementara istriku sendiri masih belum memadai pemahamannya pada agama, jadi aku mendidiknya, membimbingnya sendiri. Aku bekerja pagi- siang -malam, bahkan sehari aku nyaris tidur hanya 2-3 jam, itupun sebisanya aku tidur . Kadang di kursi aku tertidur dengan sendirinya karena  kelelahan. Tak ada yang kucari kecuali  ridho Allah.  Aku ingin menjadikan keluargaku  keluarga sakinah yang diridhoi Allah.
Tak lama kemudian, lahir anak keduaku, aku beri nama dia, Azzahra. Hari-hari berjalan biasa-biasa saja, tak ada kejanggalan, aku pun sempatkan diri untuk pulang ke negaraku, serta membawa kedua orangtuaku ke negara yang aku tinggali sekarang, supaya  orangtuaku merasakan kebahagiaan yang kurasakan.
Belum genap memasuki tahun pertama usia anakku,  aku disentakkan oleh sebuah berita. Ketika anakku sakit aku berusaha membawanya  ke dokter, dan ternyata….umur anakku hanya diperkirakan bisa bertahan  di usia ke 4. Anakku menderita kelainan jantung .  dan memasuki umurnya yang 1 th, dokter memutuskan mengoperasi,  untuk yang pertamakalinya pada anakku. Karena diperkirakan nanti akan ada operasi lagi setelahnya jika operasi ini berhasil. Akan tetapi jika…………ya Allah, aku tidak berani meneruskan kata-kataku. Dokter bilang kemungkinannya fifty-fifty. Jadi, menurut dokter kami tidak boleh terlalu berharap.  Dan memang aku tak boleh berharap pada manusia. Aku hanya boleh berharap pada Rabb, pencipta alam semesta.
 Mereka bilang, apa yang kualami karena……. “ God Curse your life, both”. Yang ada dibenak mereka Tuhan menghukum kami karena kepindahan istriku menjadi muslim. Aku tak peduli apa yang orang katakan tentang kami. Ruang yang ada dalam pikiranku  kukonsentrasikan penuh untuk mengurus anakku. Subhanallah, Allahu Akbar, Kembali  sujud syukur  ku panjatkan pada-Nya. Karena operasi anakku berjalan  lancar,  tanpa hambatan.  Meski dokter bilang itu hanya untuk menunda usia anakku, paling lama bertahan hanya sampai usia 4 tahun, but who knows? Aku masih tetap optimis. Bukankah kematian akan datang hanya jika sudah saatnya?
Hari-hariku makin kuisi dengan kerja keras, mendidik anak-anakku, istriku, mencari nafkah untuk mereka. tanpa bekerja keras aku tidak akan bisa membiayai anakku. Alhamdulillah anak terbesarku bisa memahami . mengapa perhatian dan kasih sayang kami sekeluarga tertuju pada adiknya. Setiap kali terjadi pertengkaran, aku memohon kebaikan hati kakaknya untuk bisa mengerti ,karena kita tidak tahu hidupnya entah mau sampai kapan?  
Di usianya yang ke-4 anakku kembali harus operasi.Operasi jantung untuk yang ke -3 kalinya. Dadanya akan kembali dibelah. Sungguh, aku merasakan nyeri  seperti yang anakku rasakan . Kalau saja aku bisa menggantikan rasa sakit anakku yang belum ada dosa, maulah kiranya aku menggantikannya. Akulah orang yang paling banyak dosa.ya Rabb, ampunkan hamba-Mu.
                                                 **********

Kebahagiaan demi kebahagiaan terus mengalir dalam hidupku, aku semakin merasakan nikmat dalam keimanan. sampai  akhirnya…..datang ujian susul menyusul menderaku. Anak pertamaku sekarang duduk di bangku kuliah di tingkat 3, dia mulai melirik untuk kerja part time di sela-sela kuliahnya. Aku pun mengiyakan tanda setuju, Aku berfikir supaya anakku mandiri dan tertempa menjadi pribadi yang tangguh, karena aku sudah cukup membekalinya dengan agama sejak  kecil.
Manusia hanya bisa berencana, ‘Allah is a decision maker’ . Aku garis bawahi kata-kata ini, apa yang kuperkirakan akan menjadikan kebaikan pada anakku, ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Sejak mengenal dunia kerja dan dunia uang, sedikit demi sedikit bergeser keyakinan anakku. Awalnya dari kegerahannya memakai hijab, dunia pergaulan yang menuntut banyak untuk berpesta dan menghabiskan malam-malam diluaran telah berimbas ke anakku. Dia mulai mengenal dunia discotic pesta-pesta, sesuatu yang benar-benar diluar jangkauan akalku sebagai abdi-Mu ya Rabb.

Bagi Negara seliberal Amerika, tentu saja tidak mengherankan kebiasaan hidup seperti apa yang dijalani anakku sekarang ini, Tapi justru apa yang dia jalani sebelum-sebelumnya, dimana di saat dia dulu terjaga akhlaknya , justru dianggap sebagai suatu keanehan. Begitulah,akhirnya anakku terseret dalam dunianya yg baru, yang membuatnya merasa tidak terasing lagi kini. Ah, rasanya aku ingin berteriak......Buah hatiku………, akhirnya  tertanggallah sudah hijab yang menghiasi wajah lembutmu  selama ini.
Aku tak lagi bisa bicara. Untuk menghibur diriku, aku hanya bisa membaca berulang-ulang, bahwa semua sudah tertulis, sudah menjadi kehendak-Nya. Q.S. Al hadid ayat 22  dan 23:
“ Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab  di lauh mahfudz, sebelum kami mewujudkannya, yang demikian itu mudah bagi Allah”
“ Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu , dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Inilah tahun-tahun kesedihanku, tahun-tahun berkabungku, ketika di tahun yang sama, aku harus kehilangan anakku yang kedua, setelah apa  yang dialaminya. Putriku yang kedua telah menghadap sang khalik.Anakku, buah hatiku……… telah lebih dulu meninggalkanku, dengan kesalihannya, dengan hijab yang masih bertengger di wajahnya, dengan sikap dan tingkah lakunya yang selama ini lurus, tanpa cela.  Tanpa terasa   menetes air mataku. Airmata kehilangan seorang ayah yang mencintai anak-anaknya, tapi tak kuasa manakala berhadapan dengan takdir sang Maha Kuasa. “ya Allah, terimalah amal kebaikan putriku di sisi-Mu, ampunilah segala dosa-dosanya, bukakan pintu hidayah untuk anakku pula,…..sebelum ajal menjemputnya”.

*      Seperti yang dikisahkannya padaku.

Sunday, March 6, 2011

MAJLIS IBU-IBU


masjlis
Middle East,7 April 2009

Kalau di Negara Timur tengah disini selalu ada satu ruang besar di lantai dasar yang disebut ruang majlis, yaitu ruang  tempat  berkumpulnya para tamu undangan, atau tempat berkumpulnya  anggota keluarga.

Rumah di sini rata-rata besar dan berlantai 2 atau 3. Itulah makanya mereka punya ruang majlis yang cukup besar. Semantara kamar tidur terletak di lantai atasnya. Majlis itu sendiri artinya pertemuan, sama halnya dengan liqo’. Ini sekedar prakata saja. Saya sendiri tidak akan membicarakan Balai yang  menampung banyak orang ini,akan tetapi saya akan membicarakan tentang petemuan.
Pertemuan, yang lazimnya dihadiri oleh beberapa orang, atau banyak orang, biasanya didasari oleh adanya suatu tujuan. Ada yang dengan tujuan arisan, silaturahmi lebaran, atau bahkan pertemuan suatu organisasi yang ada di lingkungan sekitarnya. Saya samasekali tidak bertujuan untuk menelanjangi orang lain, tapi marilah kita sama-sama introspeksi diri. Terutama saya pribadi. Tujuan saya menulis ini adalah supaya telinga saya tersentil, barangkali akan memerah sejenak, tapi ini sudah menjadikan niatan saya, supaya mata terbuka lebar dan gaungnya akan membuka hati pula. Insya Allah….
Di setiap majlis, entah apalah namanya itu, majlis taklimlah, atau apa, dimanapun, selalu ada yang namanya pergunjingan. Bahkan apa yang baru saya ikuti  seminggu terakhir ini, yang awalnya katanya diskusi, rembuk masalah social, pun tak lepas dari itu. Ironis memang. Dan apesnya, sayalah yag kena. Saya menghadirkan seorang psikolog, notaris, dll yang pada intinya, mereka semua adalah orang berpendidikan jenjang tinggi semua. Maklumlah, di luar negri, kata orang. Saya sendiri adalah orang awam yang tidak menguasai ilmu apa-apa kecuali seorang ibu rumah tangga biasa. Kebetulan kita berada dalam sebuah misi social mencari dana untuk suatu tragedy di Indonesia yang terjadi baru-baru ini. Saya bekerja tidak sendiri, kebetulan saya meminta tolong kepada sang psikolog yang memang jawara pula dalam menulis. Saya meminta tolong kepada beliau untuk membuat proposal guna mendapatkan dana tsb. Alhasil…ditanyailah saya A…..sampai Z. Subhanallah….saya mengakui benar-benar beliau memang  seorang yang sudah ahli berorganisasi, juga punya wawasan yang luas.
Sampai di sini saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Saya yang ingin melangkah, tapi tidak punya gambaran, tidak punya pegangan, seperti mendapatkan angin baru dan segar. Meskipun awam dalam segala hal, Alhamdulillah saya masih punya sedikit nurani, yah,.. taruhlah cuma sekuku  hitam,tapi, mudah-mudahan bermanfaat, pikir saya. Alhamdulillah, sebelum berdiskusi dengan beliau-beliau, hati nurani saya mengatakan, yang namanya uang, apalagi dengan dalih untuk sosial, akan rentan dengan segala permasalahan. Saya tidak mau orang mencibir, bahwa dana yang sudah terkumpul masuk ke kantong pribadi pengurus saja. Meskipun pada akhirnya tetap akan ada omongan, silahkan, tapi itu urusan belakang. Yang penting kita sudah berusaha sesuai jalur yang digariskan.
Bahwa uang adalah masalah yang sangat sensitive, itulah makanya saya mau ada bukti otentik, saya tekankan ini sejak dari awal. Jadi bukan permasalahannya saya mau memojokkan si Fulan, atau mencemarkan nama baiknya. Tapi saya harus memberikan pembelajaran bahwa kita harus bekerja secara professional dari lingkup yang paling kecil sekalipun!
Karena persoalan yang terus mengganjal ini, akhirnya saya coba mediskusikan kepada orang yang lebih tahu masalahnya, beliau teman saya, seorang pendakwah, seorang yang…. subhanallah zuhud, aktif berorganisasi. “Ibu,Islam itu adalah agama yang mempunyai aturan.Hal terkecil sekalipun dalam hidup ini diatur di dalam Islam”. Kata beliau “Jadi ibu sudah sangat benar dalam hal ini. Meskipun berat, ibu wajib menyampaikannya kepada teman-teman.”lanjutnya.Dengan dasar inilah,  saya, dalam forum majlis ibu-ibu ini berusaha menyampaikannya kepada Ibu-ibu yang lain.
Beberapa hari sebelumnya, kebetulan datang teman saya bersilaturahmi kerumah. Dalam pembicaraan dengan beliau diantaranya saya menyampaikan,….”Ibu, kapan ya kita bisa bertemu dengan teman-teman untuk membicarakan ini?”kata saya. Jawab beliau ,”kalau minggu-minggu ini sepertinya tidak bisa, Ibu Fulanah sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara dalam waktu dekat ini”katanya. “Iya, saya ingin menyampaikan bu, kalau masalah keuangan itu adalah masalah yang sensitive. Saya percaya, Ibu Fulan orangnya amanah (karena saya sendiri mengenal beliau). Akan tetapi kita harus membenahi, supaya kerja kita lebih professional. Ini saya sudah menyiapkan stempel, kwitansi dan sebagainya”. Lanjut saya.
Masya Allah,………..ternyata pertemuan saya dengan teman saya sebelum majlis ibu-ibu itu diadakan merupakan bumerang bagi saya. Senjata yang benar-benar ampuh berbalik menyerang saya. Saya tak habis pikir………
Pada saat ibu psikholog menanyai saya dengan rentetan pertanyaan, datanglah ibu yang lain, dan seterusnya….Pada saat itulah beliau dengan muka memerah, berbicara “Saya tidak suka kalau ada orang yang berbicara dibelakang forum mengatakan ini dan itu. Saya tahu teman saya. Kalau ucapan ibu (yang berbicara dibelakang) didengar oleh ibu A, padahal saya tahu beliau begini…begini…dst, itu akan sangat menyakitkan beliau”,
“Kalau memang mau berbicara, jangan orang perorang.berbicaralah selagi di forum”  Pada awalnya saya belum menangkap arah pembicaraan ibu ini. Tapi karena beliau terus berbicara, akhirnya saya menemukan arah bicaranya. “Coba kalau ucapan itu sampai kemana-mana?”lanjutnya.
Ya Allah, pada saat itu sepertinya tak ada satupun penolong saya, saya merasakan debaran dada, serta sakitnya. Saya benar-benar disudutkan dalam hal ini. Ternyata benar apa kata teman saya yang mubaligh itu,…”Meskipun berat, ibu harus menyampaikannya……”kembali melintas.
Yang saya tidak habis pikir, setelah Ibu Fulanah bicara, bahwa kalau ada apa-apa itu jangan berbicara dibelakang,……tidak berapa lama kemudian beliau membalikkan sendiri ucapannya…….bla…bla..bla…
”saya sudah mendiskusikannya dengan ibu A” kata-kata ini beberapa kali beliau ucapkan. Hanya saja kata-kata beliau yang seharusnya berbicara “tidak di forum” beliau perhalus dengan kata “berdiskusi”. Kalau saya berbicara lagi, akan panjang masalahnya.percuma…dalam hati saya.Saya terbiasa untuk tidak protes. Biarlah,..kata dalam hati saya.
 Suasana itu akhirnya berhasil dicairkan oleh Ibu psikholog yang memang melihat permasalahan ini dari sudut pandang yang netral. Tapi suasana hati saya sudah terlanjur memanas. Jadi setelah Ibu psikholog berbicara, saya coba menyampaikan apa yang sebenarnya ada di hati saya. Inilah kesalahan terbesar saya. Semoga next time saya tidak akan melakukan kesalahan ini lagi. Saya memetik hikmahnya, niat saya untuk meluruskan permasalahan yang sebenarnya ternyata sekali lagi menjadikan bumerang diri saya seoalah sayalah orang yang paling sensitive.
“Demi Allah, Saya, insya Allah tidak bermaksud berbicara dibelakang,kalaupun saya berbicara dibelakang saya tidak bermaksud untuk mambicarakan si A si B nya tapi saya hanya ingin menyampaikan yang seharusnya”. "ya Rabb, tanpa sadar aku membawa-bawa nama-Mu, betapa berdosanya aku....ampunkan aku..." kata dalam bathinku.  Dan tanpa sadar ketika saya berbicara,…saya melihat Ibu fulanah tadi bermain mata sebagai tanda isyarat dengan ibu Fulanah yang lain. Masya Allah,… dalam hati saya. Selama ini ibu Fulanah memang menganggap dirinya tidak pernah berghibah dan sudah 2 kali ini beliau seolah menuduh saya yang berghibah. Sementara teman saya yang menyampaikan ke beliau, wallahu Alam saya tidak tahu bagaimana penyampaian beliau, lepas dari tuduhannya. Malah dengan bangga beliau memamerkan,kalau beliau telah berdiskusi dengan teman saya itu.Hhhhhh….. dunia…..betapa gilanya…….yang waras siapa yang gila siapa…….
Saya ingat kata-kata beliau sebelum ini….”Saya ini kasihan ibu, ibu jangan berbicara begitu…” kata beliau kepada teman saya yang saya ceritakan waktu itu main kerumah.”Ibu, tolong lho ya, ucapan-ucapan kita ini tadi jangan sampai kemana-mana. Ibu jangan berbicara keluar” katanya secara langsung menunjuk saya.”Maaf ya, meskipun teman baik atau apa, saya tetap saja tidak akan percaya  100% termasuk kepada ibu, dan ibu.” kata beliau. “Iyalah, yang 100% itu kan hanya milik Allah” timpal saya. “Bisa saja dalam hal ini ibu berbicara keluar” katanya. “Oh, jangan salah ya bu” kata saya. “dalam hal ini kita harus fair, bukan Cuma saya,bisa jadi ibu juga, atau ibu A yang berbicara keluar” balas saya sengit. Alhamdulillah…ya Allah, saya seperti mendapat kekuatan. Mungkin karena tersudut, pikir saya. Beliaupun akhirnya diam dengan kata-kata saya.
Hikmah yang bisa saya ambil dari majlis demi majlis yang saya pernah hadiri, selalu saja ada perkataan yang saling menjatuhkan, saling menyikut, berghibah….naudzubillahimin dzalik. Ya Allah,…berilah hamba petunjuk. Pantas saja wanita dilarang keluar rumah,sampai shalatpun lebih bagus di rumah. Pantas saja,…..pantas saja….Saya bukannya merasa sudah terbebas dari berghibah. Justru saya merasa diri karena perempuan rentan dengan ghibah, rentan dengan segala bentuk permasalahannya,minimal saya harus mengurangi banyak majlis pertemuan. Bukankah kewajiban wanita mengurus suami dan anak di rumah? Lantas pergaulan macam mana yang Islami?  
Oh,…Majlis ibu-ibu………..

L A L A T



LALAT

 Saturday, February 6, 2010 at 9:24pm
Musim dingin tahun ini banyak menghadirkan lalat di rumahku. Mereka bak tamu tak diundang,berseliweran di depan mata. Kadang mengundang rasa kesal. Ternyata di Omanpun ada lalat berkeliaran juga. Aku kira cuma di negara kita tercinta saja (karena iklimnya) yang ada lalat berkeliaran.Herannya bukan cuma kalau ada makanan saja mereka datang. Ketika mata tengah terpejam, lagi enak-enaknya,satu-dua lalat dengan suaranya yang khas sambil sesekali ....krrrrrkkk.....krrrrkk....hhhhhhh...jadi ga konsen lagi nih mata. Alhasil, aku ga jadi pejamkan mata siang itu.

Ketika anakku tengah bermain,pun tak lepas pula dari gangguan si ratu dan raja lalat. Suaranya yang....ngiiiiiiiiiiiiing.....tap....ngii.....iiing....tap, membuat anakku kesal dibuatnya. Da berusaha menepuk lalat yg sedang terbang itu tanpa perasaan berdosa. Padahal kalau saja lalat itu mati kena tepukan tangan mungilnya,barangkali malah dia merasa jijik dan sedikit ketakutan. Saking keselnya, dari bibir mungilnya keluar ucapan : " Ma, kenapa sih Allah mesti menciptakan lalat?Aku tau Allah menciptakan semut karena kita bisa belajar dari semut, kalau semut itu suka saling menolong temannya. Tapi lalat? dia kan ga berguna?" tanyanya dengan sedikit nada kesal dan tanpa rasa bersalah.

Sambil duduk di sebelahnya, aku coba jawab pertanyaannya sebisaku. Bismillah.....
" Dik,...dik Rara tau kan kenapa Allah menciptakan semut? semut itu baik, suka menolong, suka bergotong royong, suka menyapa satu sama lain jika berpapasan,....trus, kalau lalat, Rara tahu ga apa kebiasaan lalat?"
" Aku tahu, aku tahu,..."
" Kalau lalat itu suka menganggu," jawabnya polos
" Menganggunya gimana?"
" Ya suka mau nempel, kayanya mau masuk ke telinga gitu..."
" Terus?..."
" suka ke tempat-tempat yang jorok,....suka hinggap di makanan kita.terus apa ya?"
" Iya. Habis ke hinggap di tempat yang kotor, dia hinggap di makanan kita kalau kita tidak menutupnya. terus.... satu lagi, lalat itu malas, kerjanya cuma kesana kemari.... mengganggu dik Rara ya?.....Dik Rara tahu ga? Allah itu...... tidak hanya menciptakan sesuatu yang baik, tapi Allah juga menciptakan sesuatu yang menurut pandangan kita buruk, tapi Allah ingin, manusia itu bisa belajar dari apa yang dia lihat.Contohnya lalat, kalau lalat itu malas, itu berarti Allah melarang kita mencontoh sifat malas yang ada pada lalat." jelasku.
" Trus, dik Rara itu kan masih sekolah, jadi dik Rara ga boleh malas belajar.ga boleh kaya lalat."
" Oh, gitu ya ma? iya deh, sekarang aku tahu, aku mau main sepeda lagi ya ma?" kembali kata-kata polos terucap dari bibirnya. Ditinggalkannya aku sendiri.

Yah, pada dasarnya Allah menciptakan segala sesuatunya pasti dengan maksud dan tujuan. Lihat Q.S.Albaqarah ; 30 yang artinya " Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menciptakan manusia di bumi". Mereka berkata,"Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mennsucikan nama-Mu?" Dia berfirman, " Sungguh, aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Semut adalah salah satu contoh binatang yang jadi perumpamaan, yang Allah kisahkan dalam Al-Qur'an.(Q.S.27 yi :S.An-Naml). Selain semut, lebah (Q.S.16 yi : An-Nahl), Laba-laba (Q.S.29 yi : S. AL Ankabut), Sapi betina (Q.S.2 yi: S Albaqarah) adalah contoh lain perumpamaan.

Q.S.Albaqarah; 26
" Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, "Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?" Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang yang fasik."

************

Muscat February 2010

Thursday, February 24, 2011

Pentingnya Belajar Al-Qur'an

PENTINGNYA BELAJAR AL-QUR’AN
Al-Qur’an diturunkan Allah kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam dengan perantara malaikat Jibril.  Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kita, wajib kita baca, taddaburi dan kita amalkan. Untuk sampai kepada tingkat pemahaman dan pengamalan Al-Qur’an, tentu saja seseorang harus melalui fase yang pertama,yaitu mempelajari Al-Qur’an. Baik belajar membaca huruf-huruf Al-Qur’an itu sendiri maupun dengan mempelajari maknanya. Itulah sebenarnya yang disebut dengan mengkaji (ngaji, dalam bahasa jawa).
Membaca Al-Qur’an tak sekedar yang penting bisa atau mengenal huruf saja.  Membaca Qur’an juga bukan sekedar untuk bisa diperdengarkan di depan orang-orang. Sabda Rasulullah :
 “Bacalah Qur’an karena pada hari qiamat nanti ia akan datang untuk memberikan syafaat kepada para pembacanya”.
Oleh sebab itu, kita harus bersungguh-sungguh belajar Al-Qur’an dengan niat yang lurus ikhlas karena Allah. Sabar, karena di tengah perjalanan kita dalam belajar Al-Qur’an pasti  akan ada ujian yang kita hadapi. Entah itu cemoohan dari orang-orang disekeliling kita, atau kesulitan mengucapkan huruf sesuai mahraj yang benar.  Bersabar, karena belajar Al-Qur’an tidak akan selesai dalam sehari dua, langsung bisa. Jangan karena  kita ingin buru-buru bisa menguasainya, Kita asal-asalan saja membacanya. Q.S. Al Qiyamah (75); 16 yang artinya :
“Janganlah engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya.” (Q.S.Al-Qiyamah ;16).
CARA BELAJAR AL-QUR’AN.
Mempelajari Al-Qur’an, dilakukan dengan  cara:
1.     Mempelajari tajwid (yaitu teori yang didasarkan pada hukum bacaan yang disusun oleh ulama jaman dulu/ulama salaf yang diambil sesuai praktek dan bacaan Rasulullah SAW). Dan ini tidak bisa kita abaikan karena membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid hukumnya adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim.
“Dan bacalah AlQuran dengan tartil.” (Q.S. Al-Muzzammil 73: 4).
2.     Belajar Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan melalui kaset atau VCD. Tapi belajar Al-Qur’an dilakukan dengan cara bertatap muka secara langsung kepada guru. Demikian pula guru belajar dari seniornya lagi, dst, hingga akhirnya sampai kepada Rasulullah. Karena Rasulullah sendiri bertalaqqi kepada malaikat Jibril., padahal beliau adalah seorang yang ucapannya paling fasih.  (inilah metoda yg disebut dengan talaqqi musyafahah). Proses Musyafahah ini mengikuti sunnah Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam sebagai penegasan dalam kesinambungan sanad yang shahih.
TIDAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK BELAJAR AL-QUR’AN.
·         Jika kita merasa sudah terlalu tua untuk belajar Al-Qur’an dengan alasan lidah sudah kaku untuk melafalkan huruf dengan fasih, maka lihatlah Rasulullah, beliau mulai menghafal Al-Qur’an di usia 41 th Dan para sahabat beliau belajar Al-Qur’an di Atas 30 tahun.  Jadi tidak ada kata terlambat untuk memulai.
·         Jika kita beralasan karena kesibukan yang menyita, cobalah hitung, berapa jam waktu tidur kita, berapa jam kita gunakan untuk berlibur, jalan-jalan, bersenda gurau dengan teman, shopping, dsb,. Benarkah kita tidak bisa menyisihkan waktu, meski hanya sesaat, untuk belajar Al-Qur’an?
·         Dan bagi para workoholik , yang menghabiskan hampir seluruh waktunya ntuk bekerja dan bekerja,tidak adakah sedikit waktu yang bisa kita luangkan? Mencari nafkah memang kewajiban, tapi bukankah masih banyak kewajiban lain yang menanti kita? Kita bukanlah sapi perah, yang hidup hanya untuk sekedar dilahirkan, membajak sawah, menikah (melampiaskan nafsu), dan mati.
·         Mengapa juga kita bisa membaca berlembar buku setiap hari,buku bahasa Inggris, buku tentang science, novel, dsb, tapi tidak untuk Al-Qur’an, meski hanya satu lembar saja?
MEMBACA AL-QUR’AN SAMA PENTINGNYA DENGAN MENGETAHUI ARTINYA.
Seringkali kita melihat ada orang yang membaca Al-Qur’an tapi tidak mau membaca artinya dengan dalih nanti tidak kuat, ketinggian ilmunya bisa gila. Ada pula yang membacanya cepat-cepat karena ingin segera khatam, tanpa memperhatikan apakah bacaannya itu sudah benar apa masih salah-salah. Sementara ada pula orang yang yang merasa lebih penting tahu artinya. Karena hanya dengan membaca saja tanpa tahu artinya , bagaimana kita bisa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari?
Sebenarnya,Mempelajari hukum-hukum Al-qur’an dan maknanya adalah sama pentingnya, karena keduanya merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan, seperti  yang dikatakan Syaikhul Islam :
“Barang siapa tidak membaca Al-Qur’an, sungguh ia telah meninggalkan Qur’an. Barangsiapa membacanya tapi tidak mentadabburinya, iapun tergolong orang yang meninggalkannya. Dan barang siapa yang membacanya tapi mengamalkannya, ia telah meninggalkannya pula.”

Demikian pula, mempelajari hukum2 Islam juga penting. Rasulullah dalam sabdanya :
 ”Barangsiapa yang membaca saru huruf dari kitabullah (Al-Qur’an), maka ia akan memperoleh pahala satu amal kebajikan. Dan pahala satu amal kebajikan dilipatkan sepuluh kali.Saya tidak mengatakan bahwa alif lam-mim itu satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim juga satu huruf.” (HR. Tirmidzi).
*********
Untuk menumbuhkan semangat kita dalam mempelajari Kalamullah, Al-Qur’anul karim, baiklah kita simak hadits-hadits berikut ini :
·          “ Sikap iri tidak diperbolehkan kecuali terhadap 2 hal ; seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang hari…”
·         “Dari Aisyah r.a ia berkata, Rasulullah SAW bersabda :
 “ Orang yang membaca Al-Qur’an  dan ia pandai (hafal) dalam membacanya, ia akan bersama malaikat yang mulia lagi suci. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an tetapi ia terbata-bata kesulitan dalam membacanya, ia akan memperoleh dua pahala.” (H.R. Bukhari Muslim)
         ·            Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah SAW. Bersabda :                                    “ Tidak ada orang yang berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca  dan mempelajari Al-Qur’an , kecuali mereka akan memperoleh ketentraman, diliputi oleh para malaikat dan nama-nama mereka di sebut-sebut oleh Allah di kalangan malaikat”.(HR. Muslim dan Tirmidzi).                                                                      
         ·            Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya rumah yang dibacakan surah Al-Baqarah yang di dalamnya maka ia tidak di masuki syaitan”. (HR.Tirmidzi no 3118).
         ·            Dari Ibnu Abbas ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  bersabda,: “Sesungguhnya seseorang yang di dalam hatinya tidak ada sesuatu pun dari Al-Qur’an maka ia seperti rumah yang berantakan”. (HR.At-Tirmidzi no. 3161).
         ·            “ Orang yang yang hafal Qur’an tidak ubahnya orang yang mempunyai onta terikat. Bila mau menjaga onta itu ia haruslah memegangnya. Bila onta itu dibiarkannya terlepas, ia jua akan pergi”. (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i).
         ·            Dari Abu hurairah, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,  “Tidaklah Allah mengizinkan sesuatu dengan apa yang Allah izinkan bagi nabinya untuk membaguskan suara melagukan Al-Qur’an dengan membacanya dengan jelas” (Shahih Muslim).
         ·            Syekh Ibnul Jazari (Ulama pakar ilmu tajwid dan qiro’at) dalam syairnya mengatakan:

“Membaca AlQuran dengan tajwid hukumnya wajib, Siapa saja yang membaca AlQuran tanpa memakai tajwid hukumnya dosa, Karena sesungguhnya Allah menurunkan AlQuran berikut tajwidnya. Demikianlah yang sampai pada kita dari-Nya.”
·         Dari Utsman, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata, “Sebaik-baiknya kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR.Abu Dawud).
·         Dari Sahl bin Muadz dari Bapaknya, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, maka ia akan memakaikan kedua orang tuanya mahkota pada hari kiamat, cahaya mahkota itu lebih baik daripada cahaya matahari yang menyinari rumah-rumah di dunia”, jikalau sekiranya ada diantara kalian dirumah-rumah itu maka apa yang kalian bisa duga dengan orang yang mengamalkan itu” (HR.Abu DAwud, hadits ini didhaifkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani).
·         Rasulullah SAW juga bersabda :
“Bacalah AlQuran dengan cara dan suara orang Arab yang fasih”. (HR. Thabrani).

*****





Sunday, January 23, 2011

* "indonesian....ROKHIS??" "AKU BUKAN ANAK INDONESIA"

ROKHIS??

BAPAK PEJABAT SMOGA ALLAH MERAHMATI ANTUM .
SETELAH BEBERAPA TAHUN SAYA PERIBADI MENGAMATI TENTANG KEADAAN DARI SANG PAHLAWAN DEVISA YANG ADA DI SAUDI ARABIA INI KHUSUSNYA , BANYAK SEKALI CERITA-CERITA YANG MEMILUKAN HATI DAN MENCUCURKAN AIR MATA , BETAPA TIDAK PAK, ORANG YANG BAPAK ANGKAT SEBAGAI PAHLAWAN ITU TERNYATA DI NEGARA ORANG TIDAK SEDIKIT DARI MEREKA YANG MENJADI KORBAN PELECEHAN , PEMBUNUHAN , PENYIKSAAN , SAYA PRIBADI BERHARAP DAN BERDO'A SEMOGA PENGIRIMAN PAHLAWAN DEVISA ITU BERKURANG BAHKAN DI BERHENTIKAN :
PAK ...
KEBANYAKAN MEREKA MENJADI PELACUR MEREKA MELACUR BUKAN HANYA SESAMA INDO NESIA TAPI DENGAN ORANG BANGLADES PAKISTAN HINDIA TERLEBIH2 DENGAN ORANG SAUDI .
PAK ....
BUKAN SEKALI SAYA MENDENGAR ORANG BANGLA,PAKISTAN,HINDI NGOMONGIN ORANG KITA , MEREKA BILANG :"INDONESI ROKHIS" BAPAK TAHU APA ARTINYA : INDONESIA MURAH.
PAK...
CINTA NEGARA ITU BAGI SAYA TERASA KETIKA KITA BERADA DI NEGARA ORANG LAIN , SAKIT HATI INI PAK MENDENGAR KATA - KTA HINAAN ITU.
PAK ....
SAYA MEMANG RAKYAT KECIL YANG WALAOPUN DENGAN MENGORBANKAN NYAWA TIDAK AKAN MEMAJUKAN ATAO MENGHARUMKAN INDONESIA YANG SAYA CINTAI , NAMUN SATU PEGANGAN SAYA :
"CINTA TANAH AIR SEPAROH DARI IMAN "
PAK ....
BAGAIMAN ALLAH AKAN MERAHMATI NEGARA KITA KALO KITA MEMBANGUNNYA DENGAN UANG SUBHAT .
BAPAK SBY. YANG SAYA KAGUMI YANG SAYA HORMATI YANG SAYA BANGGAKAN, MUMPUNG BAPAK MENJADI PRESIDEN BERHENTIKANLAH PENGIRIMAN TKI (W/L) .
PAK ....
MAAFKAN RAKYATMU YANG TIDAK SOPAN INI, BAPAK BOLEH MENANGKAP SAYA KALO ADA KATA-KATA SAYA YANG TIDK BERKENAN DI HATI BAPAK .
DARI : AHMAD

Subhanallah, begitu lugas dan bersahaja kata-katanya. Adakah yang masih peduli dengan jeritan hati seorang  AHMAD ??? Aku hanya rakyat kecil, tak ada bedanya dengan beliau. Kalaupun aku menulis berlembar-lembar, mungkin tidak akan memberikan pengaruh apa-apa, kecuali hanya sebentuk kepedulian pada sesama, hanya sebentuk penolakan hati melihat kemunkaran yang ada dihadapan mata. Karena aku tidak bisa bertindak selain mendukung kata-katanya.
Banyak kisah tentang ‘pahlawan devisa’ (yang.... aku sendiri tidak setuju pada sebutan ini,kalau hasil dari........untuk mendanai negara). Pak Ahmad, aku lebih setuju kalau bapaklah yang disebut sebagai pahalawan itu. Pengakuan bapak sebagai “ rakyat kecil” , yang telah dengan berani menyuarakan hati nurani akan kebenaran , sampai-sampai  bapak bersedia untuk ditangkap untuk sebuah kata-kata yang justru ingin membangun sebuah Negara yang bersih , yang nantinya bisa membuat Negara lain segan kepada kita karena  bangsa kita adalah bangsa yang berkeribadian???



“AKU BUKAN ANAK INDONESIA”.

Sungguh miris mendengar kata-kata itu keluar dari bibir  seorang bocah 9 tahun. Kata-kata yang keluar dari bibir mungil seorang anak yang notabene lahir dan berkebangsaan murni  Indonesia.  Sudah sedemikian rusakkah bangsaku ? sampai-sampai anak seusia itu, yang seharusnya merupakan asset bangsa, masa depan Negara ada di tangannya, sebagai pemegang tongkat estafet, tak lagi mau mengemban nama, yang selama ini digembar-gemborkan , dikagumi bangsa lain di dunia?
Pagi itu, seorang ibu dan anaknya tengah belanja di sebuah supermarket. Ibunya tengah sibuk berbelanja untuk memenuhi kebutuhan dapur yang sudah menipis. Dibiarkannya anknya memilih, mencari  makanan kecil kesukaannya. Tak ada yang istimewa, setelah selesai ,sang ibu segera membayar belanjaannya. Tentu saja si ibu harus rela untuk antri beberapa jenak, di meja kasir yang paling ujung. Tak berapa jauh dari situ ada counter lain dengan dua deret etalase yang memajang jam tangan dan alat-alat elektronik lain. Sang ibu tak tahu kalau si anak dengan penuh perhatian menatap ke counter itu.
Di tengah perjalanan ke rumah, sang anak, tiba-tiba mengadu pada ibunya.
“Ibu, aku tidak ingin jadi orang Indonesia. Kenapa aku mesti dilahirkan di Indonesia? Aku malu bu, jadi orang Indonesia.“
“Nak, seharusnya kita itu bangga jadi bangsa Indonesia, bangsa yang besar, dengan kekayaan alamnya yang subhanallah, sangat berlimpah.” ujar ibunya.
Sang anakpun akhirnya nyerocos, “tapi aku nggak mau jadi orang Indonesia, bu.Aku bukan anak Indonesia. Nanti, kalau sudah besar, aku mau besar di negeri lain. Mau tinggal di Negara lain yang tenang, yang damai.” Orang Indonesia kenapa sih bu, jahat-jahat, ?” Si ibu masih dengan rasa keibuannya menjawab kata-kata anaknya. “ Tidak semua orang Indinesia jahat, nak. Yang baik pun tak kurang-kurang.”jawab sang ibu, tidak pula tau apa yang dimaksud si anak dengan kata ‘jahat’ tadi.
“Bu, tadi waktu di supermarket, aku lihat ada 2 orang Indonesia.”
“Oya? Dimana? Kenapa gak kamu sapa, nak?”
“Malu ah bu, tadi mereka itu di depan kita, di counter yang jual jam tangan itu.....mereka mau beli jam itu, terus mereka tanya, berapa harganya?....yang jualan bilang 25 riyal”
“Terus??”Tanya sang ibu
“terus, orang Indonesia itu nawar, 10 riyal aja....tapi yang jual gak kasih. Habis itu bu, masa....cewek itu bilang, 10 riyal saja deh, nanti aku kasih temenku ini ke kamu. Sama aku kasih no hp ku...tapi yang jual tetep bilang, gak....”
“Astaghfirullahal adziim....” Ucap sang ibu. Pemandangan yang sangat ironis, yang sangat tidak edukatif dan sempat  tertangkap mata sang  anak. Sungguh diluar kuasanya untuk mengelak dari kejadian itu. Sudah tak punya rasa malukah anak-anak bangsa kita, para pembantu kita ??????? menawarkan diri secara vulgar, ( masih disertai dengan penolakan) yang seharusnya, kalau kita masih punya nurani... ...betapa sangat memalukan???? dengan atau tanpa penolakan.Dan kejadian itu membekas di hati sang anak.....Si ibu tidak akan pernah menyalahkan sang anak, sampai ingin berlepas diri dari sebuah bangsa yang katanya sangat dikagumi dunia.Keputusan adalah masalah hati. Dan sang ibu pun membiarkan sang anaknya untuk ...suatu ketika menjadi warga dunia, bukan warga khusus bangsa tertentu.
 

***


Saturday, January 22, 2011

SANG MUROBI


      
              SANG MUROBI ITU……

Subhanallah, begitu istiqomahnya fulanah menggenggam erat tali aqidah yang senantiasa terjaga dari keburukan perilakunya. Kecerdasan yang dimilikinya, tak syak menjadi panutan orang, terutama teman-teman dekatnya. (setidaknya Itulah yang terlihat dari  kacamata sudut pandangku).
Awalnya, kita terdampar di sebuah pulau yang totalitas penduduknya berbeda bahasa dengan kita. Jarak yang sekian ribu kilometer by flight sudah menunjukkan perbedaan yang significant itu. (Sebenarnya lebih  pantas aku mengatakan bukan terdampar. yah….., karena pada dasarnya semua sudah tertulis di lauh mahfudz, baiklah kuralat saja, ditakdirkan). Di pulau inilah aku mengenal fulanah. Dengan back ground yang sama sehingga memudahkan komunikasi, tentunya.
Khazanah keilmuannya barangkali seluas samudra, yang fisically tampak dari minusnya kacamata yang tebal. Dan buku-buku tebal yang begitu lahap dibacanya. Bukan hanya ilmu agama, tapi ilmu-ilmu lain, diluar ilmu agama, apalagi ilmu yang  berhubungan dengan membawa  dan mempengaruhi massa,yang menelaah kepribadian orang,( tapi yang jelas bukan ilmu kejawen atau perdukunan J). Dan bahkan, berita terkini pun tak luput dari pantauannya. 24 jam tak lepas internet darinya (menurut pengkuannya).
Kami  hanya bergelintir mendiami pulau ini. Selebihnya orang berlalu lalang, tak kufahami bahasa yang mereka pakai. Adat dan cara berpakaianpun sangat berbeda dengan kita.
 Dari komunitas yang bergelintir inilah, atas inisiatif fulanah juga, akhirnya terbentuk  pertemuan yang inti  tujuannya  :  pendalaman  tentang Firman Rabb, dan sabda Rasul-Nya, Bagaimana menerapkan dalam kehidupan nyata, perilaku sunnah dan yang sejalan dengan Qur’an. Subhanallah.
Meski  hanya segelintir………..segelintir………..akan tetapi komunitas kita heterogen di sini. Dan pertemuan yang dibuat itu pada dasarnya untuk menjadikan  kita yang taat bertambah ketaatannya, dan yang belum taat menjadi taat, pada agama. “kita coba, kita hanya berusaha,  semoga cahaya Allah membuka pintu hati mereka “ kata fulanah.
Bagaikan bumi dan langit antara aku dan fulanah. Aku si lugu yang awam. Meski dari faktor U jelas  aku lebih ber ‘usia’ daripada beliau. Aku hanya bisa bantu sebisaku dalam menyampaikan karena belum cukup ilmu. Aku hanya tergerak oleh bunyi sebuah hadits “ sampaikanlah walau hanya satu ayat”.. ..
Kepiawaiannya dalam menyampaikan materi dakwah, akan membuat orang berdecak, seolah apa yang nampak di permukaan sudah balance antara ilmu dunya dan “the here after” nya. Beliau sedkit ‘zakelijk’ untuk tidak menghadiri acara-acara yang……menurutnya tak begitu bermanfaatlah, atau …… hanya untuk bersilaturahmi dengan seseorang yang beliau anggap tidak ada muatan keilmuannya, rasanya  hambur waktu saja.  Disinilah ujub mulai mengemuka. Dan satu hal yang tidak tercuri yakni seolah tidak ada yang melebihinya dalam hal keilmuan, sehingga beliau bebas mengatakan apa saja, kritik yang menyakitkan, underestimate, dan adakalanya penghinaan yang terang-terangan dalam status-statusnya. Begitulah orang pintar.
 Setinggi-tingginya ilmu masih ada yang lebih tinggi. Memang, kedudukan ilmu sangatlah tinggi dalam Islam  seperti  yang diriwayatkan Athabrani  :  “Sedikit ilmu lebih baik daripada ibadah. Cukup  bagi seseorang pengetahuan fiqihnya jika ia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik). Dan cukup bodoh jika seseorang merasa bangga  (ujub) dengan pendapatnya sendiri “. (HR. Athabrani). Akan tetapi bukankah Allah menyuruh kita untuk tetap tawadhu? Bahkan dalam peribahasa pun dikatakan  bahwa Padi,…semakin berisi, semakin merunduk…..
 Imam ghasali mengatakan pula bahwa ada sebagian orang yang merasa ujub atau kagum dengan kelebihan yang ada pada diri mereka. Mereka asyik menghiaskan diri di sudut lahir sehingga mengabaikan perkara yang lebih penting yaitu kebersihan batin serta hati. Ketika itu mereka melupakan musuh yang utama mereka yaitu syaitan. Lalu mereka berpakaian dengan menggunakan kain-kain yang halus diselimuti mutiara, perhiasan serta sutera, dan bermusyafir dengan menggunakan kendaraan yang mengagumkan. Mereka mendakwa semua ini dilakukan bertujuan utnuk memuliakan agama. Mereka masuk ke tempat para penguasa yang dzalim untuk memuji mereka dan mendapatkan kasih sayang mereka.
 Mereka ini sebenarnya adalah orang yang merusak agama dan bukan imam agama karena imam agama yang sebenarnya adalah yang mengutamakan kepentingan akhirat dan tidak terpedaya dengan kelezatan dunia. sebaliknya golongan yang merusak ini justru berpaling dari kehendak Allah dan menghadapkan dirinya dengan kenikmatan dan indahnya dunia.
Begitulah hari berganti, sekarang, aku tak melihat lagi murobi yang dulu sarat dengan keilmuannya.  Yang ada ? dunianya sekarang berhiaskan nyanyi-nyanyian, jika ada pertemuan atau acara beliau siap tampil, dan............astaghfirullah, dengan keilmuannya  dalam menarik massa, banyak pula akhirnya teman-temanku yang mengikuti langkahnya, hanya karena tidak mau dibilang “tidak gaul”. Yang tadinya sudah mau mengikuti langkahnya, dengan mengumpulkan hijab, untuk memakainya, tiba-tiba yang terjadi malah sebaliknya, di cat nya rambutnya warn-warni. Semua berusaha menampakkan diri masing-masing, bahwa mereka bisa mengikuti perkembangan jaman, bahwa dunia mereka adalah dunia pergaulan, kesana kemari berusaha mengikuti aktifitas.   berusaha menunjukkan Islam itu bisa mengikuti perkembangan jaman. Yang mereka bicarakan sudah tak lagi tentang keislaman, tapi tentang si A yang ulangtahun, tentang tas bermerk yang harganya sekian, sekian.....Sementara dapur berantakan, suami tak lagi merasakan lezat makanan terhidang. Inikah kemajuan wanita? Ataukah bencana? Wallahu Alam bisawwab.



***